Pernikahan, Kebebasan, dan Dominasi: Benarkah Islam Mengajarkan Superioritas Laki-Laki?
"Mengapa di sebagian masyarakat Muslim masih ditemukan praktik dominasi laki-laki terhadap perempuan, padahal Islam mengajarkan kasih sayang dan keadilan? Sebaliknya, mengapa sebagian nilai tentang penghormatan terhadap perempuan yang berkembang di Barat justru terasa lebih dekat dengan semangat Islam?"
Pertanyaan ini sering memunculkan perdebatan. Sebagian orang langsung menyalahkan agama, sementara yang lain menyalahkan budaya Barat. Padahal persoalan ini jauh lebih kompleks. Agar tidak terjebak pada kesimpulan yang keliru, kita perlu membedakan secara tegas antara ajaran agama, budaya masyarakat, dan perilaku individu.
1. Dua Cara Pandang tentang Pernikahan
Secara umum, terdapat dua pola pandang yang berkembang.
A. Model Timur (Mayoritas Negara Muslim)
Pernikahan dipandang sebagai bagian dari ibadah sehingga memiliki konsekuensi moral dan spiritual.
Karakteristiknya antara lain:
- Pernikahan dipandang sebagai ibadah dan komitmen kepada Allah.
- Suami diposisikan sebagai pemimpin keluarga.
- Istri diwajibkan menghormati dan menaati suami dalam perkara yang benar.
- Keluarga lebih menekankan tanggung jawab dibandingkan kebebasan individu.
Namun dalam praktiknya, pada sebagian masyarakat muncul penyimpangan berupa:
- dominasi laki-laki,
- pembatasan hak perempuan,
- kekerasan dalam rumah tangga,
- anggapan bahwa istri harus selalu tunduk tanpa syarat.
B. Model Barat
Di banyak negara Barat, pernikahan dipandang sebagai pilihan, bukan kewajiban agama.
Karakteristiknya antara lain:
- hubungan dibangun atas dasar kesepakatan,
- laki-laki dan perempuan memiliki posisi yang lebih setara,
- perempuan bebas menentukan pendidikan dan karier,
- kebebasan individu lebih diutamakan.
Konsekuensinya:
- banyak orang menunda menikah,
- angka hidup bersama tanpa menikah meningkat,
- perceraian relatif lebih tinggi dibanding banyak negara Timur.
Kesimpulannya: kedua model memiliki kelebihan dan tantangannya masing-masing.
2. Kesalahan yang Paling Sering Terjadi: Menyamakan Agama dengan Budaya
Di sinilah akar persoalannya.
Banyak orang menganggap bahwa apa yang dilakukan masyarakat Muslim pasti merupakan ajaran Islam.
Padahal belum tentu.
Sering kali yang terjadi justru:
- budaya diwariskan turun-temurun,
- kemudian dibungkus dengan dalil agama,
- akhirnya dianggap sebagai ajaran Islam.
Padahal keduanya bisa sangat berbeda.
3. Apa Sebenarnya yang Diajarkan Islam?
Islam tidak membangun keluarga di atas dominasi.
Islam membangun keluarga di atas tiga prinsip utama.
a. Kepemimpinan adalah Amanah, Bukan Kekuasaan
Menjadi pemimpin keluarga berarti memikul tanggung jawab yang lebih besar.
Suami berkewajiban:
- memberi nafkah,
- melindungi keluarga,
- mendidik istri dan anak,
- menghormati istri,
- memperlakukan istri dengan baik,
- bertanggung jawab di hadapan Allah.
Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar tanggung jawabnya.
Bukan semakin besar haknya.
b. Ketaatan Istri Bukan Ketaatan Buta
Islam memang mengajarkan istri menghormati suami.
Namun Islam juga memberikan batas.
Istri tidak wajib menaati suami apabila:
- diperintah berbuat maksiat,
- mengalami kezaliman,
- mengalami kekerasan,
- diperlakukan tidak manusiawi,
- hak-haknya dihilangkan tanpa alasan yang dibenarkan syariat.
Artinya, Islam tidak pernah mengajarkan ketaatan tanpa batas.
c. Rasulullah Menjadi Contoh Nyata
Cara Rasulullah memperlakukan keluarganya menunjukkan wajah Islam yang sebenarnya.
Beliau:
- membantu pekerjaan rumah,
- mendengarkan pendapat istri,
- bermusyawarah,
- tidak memperlakukan istri dengan kasar,
- menjadikan kasih sayang sebagai dasar rumah tangga.
Inilah model keluarga Islam yang sesungguhnya.
4. Mengapa Dominasi Laki-Laki Tetap Terjadi?
Jika Islam tidak mengajarkan dominasi, mengapa fenomena tersebut tetap banyak ditemukan?
Setidaknya ada tiga penyebab utama.
Pertama: Budaya Patriarki
Sebagian masyarakat telah menganut budaya patriarki jauh sebelum Islam datang.
Budaya tersebut tetap bertahan dan sering disalahartikan sebagai ajaran agama.
Kedua: Pemahaman Agama yang Tidak Utuh
Banyak laki-laki memahami:
- hak sebagai suami,
tetapi kurang memahami:
- kewajiban sebagai suami.
Akibatnya:
- hak dituntut,
- kewajiban diabaikan.
Ketiga: Faktor Ekonomi
Ketergantungan ekonomi membuat sebagian perempuan:
- sulit mempertahankan posisi tawar,
- takut berpisah,
- terpaksa bertahan dalam hubungan yang tidak sehat.
Ini adalah persoalan sosial, bukan semata-mata persoalan agama.
5. Ditinjau dari Sudut Pandang Logika
Setiap hubungan manusia membutuhkan dua unsur.
Kebebasan
Setiap individu ingin:
- dihargai,
- dipercaya,
- berkembang,
- memiliki ruang untuk menentukan pilihan hidup.
Komitmen
Namun keluarga juga membutuhkan:
- tanggung jawab,
- pengorbanan,
- kesetiaan,
- kerja sama.
Maka secara logis berlaku prinsip berikut.
- Kebebasan tanpa komitmen menghasilkan hubungan yang rapuh.
- Komitmen tanpa kebebasan menghasilkan hubungan yang menekan.
- Rumah tangga yang sehat membutuhkan keseimbangan keduanya.
6. Mengapa Banyak Perempuan Barat Menunda Pernikahan?
Alasannya tidak sesederhana "takut berkomitmen".
Banyak perempuan memilih menunda menikah karena:
- ingin menyelesaikan pendidikan,
- membangun karier,
- mandiri secara finansial,
- menghindari hubungan yang tidak sehat,
- tidak ingin kehilangan kebebasan pribadi.
Yang mereka hindari bukan selalu pernikahan.
Sering kali yang mereka hindari adalah hubungan yang tidak adil.
7. Paradoks yang Jarang Dibahas
Di sinilah letak paradoks yang menarik.
Sebagian laki-laki Muslim menginginkan istri yang:
- taat,
- hormat,
- setia,
- mengurus rumah,
- melayani suami.
Namun pada saat yang sama mereka belum tentu menunjukkan akhlak Islam sebagai suami.
Misalnya:
- kurang menghormati istri,
- kurang bertanggung jawab,
- kurang menjaga amanah,
- kurang bermusyawarah,
- mudah marah,
- melakukan kekerasan verbal maupun fisik.
Sebaliknya, sebagian nilai yang berkembang di masyarakat Barat justru sejalan dengan nilai universal Islam, seperti:
- menghormati pasangan,
- berbagi tanggung jawab,
- menolak kekerasan dalam rumah tangga,
- menghargai pendapat perempuan,
- menjaga martabat setiap manusia.
Ini bukan berarti Barat lebih Islami.
Tetapi menunjukkan bahwa nilai-nilai kebaikan dapat ditemukan di mana saja.
8. Kesimpulan
Persoalan ini bukanlah pertarungan antara:
- Islam dan Barat,
- Timur dan Barat,
- laki-laki dan perempuan.
Persoalan yang sebenarnya adalah apakah sebuah rumah tangga dibangun di atas:
- keadilan,
- kasih sayang,
- tanggung jawab,
- penghormatan terhadap martabat manusia,
- keseimbangan antara hak dan kewajiban.
Islam tidak pernah memberikan lisensi kepada laki-laki untuk mendominasi perempuan. Kepemimpinan adalah amanah, bukan hak istimewa. Sebaliknya, kebebasan tanpa tanggung jawab juga bukan fondasi yang kuat untuk membangun keluarga.
Karena itu, jika kita masih menemukan ketidakadilan dalam rumah tangga di sebagian masyarakat Muslim, yang perlu dikoreksi bukanlah ajaran Islam, melainkan cara sebagian umat memahami dan mengamalkannya. Ketika agama dipraktikkan sesuai nilai keadilan dan kasih sayang, maka rumah tangga tidak akan menjadi tempat dominasi, melainkan ruang untuk saling menumbuhkan dan memuliakan.